Laman

Jumat, 01 Mei 2015

Obrolan Santai 4 Sahabat di Sore Jum’at


Diskusi hari Jum’at dengan 3 sahabat saya, mas paijo, bang Regar dan bang Yusuf (anggap aja nama samaran), tentang perkembangan dakwah tarekat menjadi sebuah perenungan saya sampai hari ini. Masing-masing kami berada di pulau terpisah, bang regar di pulau jawa, mas paijo dan bang yusuf di Kalimantan sedangkan saya sedang berada di pulau sumatera. Tentu diskusi kami bukan menggunakan power gaib, meraga sukma atau terbangnya rohani berkumpul ke satu tempat seperti wali-wali dulu, kami hanya menggunakan “syafaat” dari teknologi berupa BBM smile emotikon . Saya sangat yakin mas paijo dan bang regar punya kemampuan untuk terbang rohani nya dalam sekejab kemanapun dia pengen, itu hanya permainan anak-anak bagi mereka, cuma mereka sangat menghargai teknologi yang sudah susah payah diciptakan oleh saudara kita dibelahan dunia sana, maka diskusinya cukup via bbm saja smile emotikon
Diskusi ini saya kutip apa adanya, agar sahabat pembaca bisa lebih paham, kawan-kawan dalam diskusi ini profilnya sbb : Bang Yusuf adalah seorang dosen, Beliau sudah Doktor, jenis orang Kolerik Melankolis, suara nge-Bass dan berwibawa, Bang Regar adalah seorang pengusaha sukses, Kolerik Melankolis yang sedang belajar jadi orang Senguin, senang humor dan orangnya enjoy dan Mas Paijo adalah seorang yang selalu berusaha, optimis, saat ini sedang menekuni bisnis Ayam potong…
Bang Yusuf : Assalamu’alaikum wr. Wb Abangda semua…bermula dari diskusi kecil…mudahan ada manfaatnya.
Mas Paijo : Wa’alaikum salam… salam sejahtera untuk kita semua (kirain mas paijo mo pidato tadi he he).
Bang Regar : Yes! (Lho jawab salam koq pake yes?!?)
Sufimuda : Wa’alaikum salam, hadir
Bang Yusuf : Mohon Izin utk memulai…Guru memandang ku dengan bersedih…seakan beliau berkata jgn berdiam diri… surau mungkin sedang “bermasalah”.
Sufimuda : Menyimak…
Mas Paijo : Lanjutkan bang yusuf…
Sufimuda : Jam 3 tadi sepulang shalat Jum’at saya menangis lama tiba2 ditempat dzikir, teringat Guru kita, mungkin ada hub dgn yg mo disampaikan bang yusuf, silahkan bang
Bang Yusuf : Sepertinya masalah surau banyak dan blunded… namun saya ingin mengobrol dulu dan yang ringan2 saja…jika perlu sedia cemilan dan minuman…
Bang Regar : Yup…
Saya berfikir gmana cara ngirim makanan dan minuman via BBM ya, setahu saya teknologi Tele- transportasi belum berhasil diciptakan sampai saat ini
Sufimuda : Silahkan, saya lagi santai menunggu azan magrib…
Mas Paijo : Surau sepi abangda semua…
Sufimuda : Benar mas Paijo, ditambah masalah dialami oleh setiap ikhwan…
Bang Regar : Kembali ke khitah.. this time for how to be, not how to have..
Bang Yusuf : Guru telah menanamkan pada saya dan sy meyakini bahwa itu juga tertanam pada abangda semua..
Sufimuda : Tadi cerita tentang mimpi bang yusuf belum selesai…ttg Guru memandang dengan wajah sedih.
Mas Paijo : Pasti itu bang Yusuf…
Bang Yusuf : Sedihnya Guru kita…sy persepsikan…seperti yg bang Regar bilang…this time how to be… bergerak…action…dimulai…dari yang kecil dan dapat melakukan…untuk sesuatu yang dpt…menggerakkan semua…
(Kening saya berkerut, ini bang Yusuf lagi diskusi dengan kawan seperguruan atau sedang mengajar mahasiswanya ya, penyakit S3 nya keluar ni..)
Sufimuda : Menurut sy, kuncinya di “Power” tanpa itu semua tidak berdaya..
Bang Regar : Absolutely…
Mas Paijo : Power Guru unlimited dengan power begitu mampu menaungi anak muridnya.. itu mimpi saya di datangi Guru.. power kita bisa besar kalau terhubung dengan big generator yg unlimited juga..
Sufimuda : Itu phenomena setiap tarekat sahabat semua, di tinggalkan Sang Guru para murid berubah fokus ke materi. Tarekat X, berebut kekuasaan dan harta termasuk berebut posisi pewaris Guru, tarekat Y sama saja. Ada yang bisa kembali ke jalur tapi banyak yang hanyut, hanyut dalam bentuk hilang jamaah atau jamaah banyak tapi tidak berpower.
Bang Yusuf : Wah..wah… yang ringan ringan saja…
Sufimuda : Kalau yg ringan ndak usah di bahas disini bang Yusuf, tiap malam wirid ke surau aja, ngobrol ama anak surau smile emotikon Dalam pandangan bang Regar ini udah paling ringan dibahas, boleh bang yusuf ksh contoh yg ringan biar diskusi kita lebih nyambung…
Bang Yusuf : Pewaris Guru adalah Guru Mursyid yg “dipersiapkan”…. Ada guru ada murid…mungkinkah atau akankah..saya dan abangku semua yang ada di room ini…”murid yang dipersiapkan”?????
(Dari banyak tanda seru yang diketik bang Yusuf, kelihatannya ini pertanyaan serius), ini yang menjadi renungan saya, setiap Guru mempersiapkan pewaris ilmunya, mungkinkah Sang Guru juga mempersiapkan para murid untuk melanjutkan berguru kepada pewaris Guru?
Mas Paijo : Murid yang lagi di masukkan kawah candradimuka biar tahan banting, tahan pukul dsb…tp jgn lama2 Tuhan bisa patah kalau terus2an… frown emotikon
(Gaya protes mas paijo ini khas para pengabdi smile emotikon )
Bang Regar : Sy Jujur, sdh 1 bulan ini rajin pagi petang,, kl gk bisa petang, ya malam lah.. Minimal buat diri sendiri n keluarga lah generatornya.
Sufimuda : Ya Bang Regar, jadi ingat kata-kata Guru 6 bulan sebelum Beliau Berlindung Kehadirat Allah, “Suatu saat nanti kalian sulit dapat syafaat (pertolongan)” harus diperjuangkan sungguh2 baru syafaat turun.
Bang Regar : Benar Bang Sufimuda… Pilar tarekat harus ditegakkan kembali..Agak bosan juga, ngomong kaya kaya, harus kembali ke ngomong berbuat berbuat. Sy yakin 100 persen, jamaah sudah rindu “ketharekatan”… Klu berbuat, kaya pasti di lewati. Krn kaya bukan tujuan, merupakan lintasan smp pada Yang Maha Kaya.
Mas Paijo : yg berobat butuh power lebih bro.. harus ada generator besar utk menghandle hal tsb..
Bang Regar : Skrg saatnya berjuang dan berdoa, jika sungguh sungguh berjuang dan berdoa menegakkan fatwa Guru,, Beliau pasti turun tangan, trust me.
Sufimuda : Benar Bang Regar, kalau istiqamah dzikir, akan melimpah juga.
Mas Paijo : (Memberikan jempol)
Sufimuda : Tangan Tuhan ada di atas tangan mrk… tangan mrk yang lemah, namun penuh harap dan sungguh2 maka tangan Tuhan akan menguatkan tangan mereka.
Mas Paijo : Dzikir Ayam..
(Keluar ni ke isengan mas Paijo sebagai pengusaha Ayam potong, koq dzikir Ayam??)
Sufimuda : Ayam bahaya di dzikirkan Mas Paijo, bisa mati, wadahnya gk sanggup menampung dzikir mas paijo he he Tapi kalau Ayam mati, sekali kali boleh dicoba hidupkan pakai dzikir “Hayyum Qayyum ya Jalzala li wal ikhram” he he
Mas Paijo : he he
Bang Regar : Dan Beliau pasti turun tangan bro, I trust it… Dimana murid siap, disitu Guru datang, bukan bgt ungkapannya
Sufimuda : Nah itulah kunci nya bang Regar, sangat sepakat
Bang Regar : sy fikir, kembali hidupkan segala amalan yg di tinggalkan Guru kepada kita, Tahlil, duduk pagi petang, jam langkah, sedekah, dll
Sufimuda : Benar b Regar! Makanya suluk ke depan saya mengajak kita semua untuk suluk bersama-sama, kita jolok karunia bersama-sama.
Mas Paijo : (kasih jempol)
Sufimuda : Udah kita jolok rame2 juga gk turun, gampang, tinggal kita tonjok aja ipar dani kita ha ha ha
Bang Regar : ha ha
Bang Regar : Bang Sufimuda, dzikir tadi berlaku gak utk menghidupkan yang sudah “mati”.
Sufimuda : Sangat berlaku bang regar, Dia Maha Hidup..
Diskusi kemudian berlanjutkan ke hal-hal ringan seputar kehidupan sehari-hari, begitulah para sahabat kalau bertemu walau tidak bertatap muka tapi tetap hidup diskusinya se olah-olah berjumpa. Tanpa terasa sudah memasukan halaman ke 4 saya menulis ulang diskusi Jum’at lalu, biasanya saya menulis 2-3 halaman saja. Sebelum sy tutup, kita liat tulisan bang Yusuf dengan Gaya dosen nya yg membuat mas paijo kesal berikut ini :
Bang Yusuf : Pertanyaan reflektif ini saya utarakan untuk lebih mendrive arah diskusi ini :1. Akankah. 2. Mungkinkah. 3. Bukankah.. sebagai “murid yang dipersiapkan”. Pilih salah satu….
Mas Paijo : maksud pertanyaan bang yusuf apa sich bro…?
Saya dan bang regar tidak menanggapi kekesalan Mas Paijo, kami terus ngobrol tentang hal-hal lucu, kembali mas Paijo nanya..
Mas Paijo : Itu maksud pertanyaan bang yusuf apaan bro? Itulah pertanyaan org S3 ndak paham ane…
Kami tidak menjawab pertanyaan mas Paijo tentang maksud pertanyaan bang Yusuf, biarlah bang yusuf dengan keunikannya dan Mas Paijo dengan kebingungannya. Kalau Mas Paijo nanya ke saya, paling saya jawab : “Hanya Allah dan Rasul-Nya yang tahu!”.
Jujur, saya sangat senang sore Jum’at itu, saya senang karena Allah mengirimkan kepada saya sahabat-sahabat terbaik yang selalu bisa diajak diskusi tentang apapun.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar