Laman

Jumat, 01 Mei 2015

Training Allah Ta’ala (1)


Melanjutkan tulisan Benci, Cinta dan Suluk…
Suluk merupakan satu-satunya training yang diciptakan oleh Allah untuk manusia dengan begitu sempurnanya, atas hasil riset dari para Nabi dan kemudian disempurnakan oleh para Wali mengikuti perkembangan zaman dan sesuai dengan kebutuhan manusia dizamannya.
Suluk adalah media untuk membentuk manusia sejati, manusia yang mengenal Allah secara hakiki tanpa keraguan sedikitpun. Suluk akan mampu meng-upgrade kondisi ruhani manusia dari tidak mengenal Allah menjadi manusia yang mencapai tahap makrifat, mengenal Allah dengan sebenarnya.
Salah satu hadap atau aturan dalam suluk adalah “Dilarang memikirkan hal-hal yang bersifat duniawi walaupun itu berhubungan dengan Kebaikan”. Selama 10 hari tidak ada informasi dari luar yang masuk ke alam fikiran, hanya getaran zikir dari Dzat Maha Tinggi yang disalurkan lewat chanel-Nya yaitu Waliyammursyida.
Kalau ada iktikaf/suluk kemudian mengizinkan pesertanya berdiskusi, membaca buku-buku agama dan mengaji maka itu bukanlah suluk/Iktikaf dalam makna sebenarnya. Barangkali itu hanya belajar mempraktekkan kata Iktikaf dalam hadist tanpa bimbingan dari seorang Master yang ilmunya diturunkan secara berkesinambungan langsung dari Rasulullah SAW.
Membaca Al-Qur’an atau Hadist, kemudian melakukan apa yang disampaikan disana tanpa atau yang menuntun, tanpa ada Guru Ahli yang telah berpuluh-puluh bahkan beratus kali mempraktekkan lewat bimbingan Guru sebelumnya, maka apa yang dipraktekkan akan jauh dari makna yang sebenarnya. Sama halnya mempraktekkan ilmu dokter tanpa pernah menempuh pendidikan di fakultas kedokteran dibimbing oleh dokter senior yang berpengalaman maka ilmu yang dipraktekkan akan melenceng jauh dari aturan-aturan ilmu kedokteran.
Aturan-aturan dalam suluk sedemikian bagusnya tidak akan memberikan makna apa-apa kalau tidak ada Guru Master yang benar-benar ahli yang bisa menyalurkan energi Ketuhanan. Karena inti dari Suluk adalah bisa mengambil energi Ilahi yang dengan energi itulah manusia bisa berhubungan dengan Allah lewat ibadah-ibadah yang dilakukannya sehari-hari.
Ruh dari ibadah adalah seorang hamba bisa berkomunikasi secara baik dengan Allah, dan ini tidak mungkin bisa didapat kalau hanya mempraktekkan ibadah langsung seperti yang diajarkan syariat. Nabi bertahun-tahun melakukan khalwat (suluk) di Gua Hira’ untuk memperoleh ruh ibadah, komunikasi yang sempurna dengan Allah lewat bimbingan seorang Master yang berpangkat Jibril.
Jibril adalah sosok yang memiliki tingkat ruhani bisa mengajarkan ilmu-ilmu Ketuhanan kepada manusia, khususnya kepada Nabi/Rasul. Jibril adalah pangkat yang disandang oleh sosok yang telah sempurna ilmu kerohaniannya. Kalau anda mencari Jibril maka sampai kiamatpun tidak akan pernah bertemu, tapi kalau anda mencari sosok yang memiliki pangkat rohani Jibril, barangkali Allah akan menuntun anda kesana.
Jangankan Jibril sebagai pangkat rohani, mencari seorang Gubernur yang berpangkat duniawi pun anda tidak akan pernah bisa menjumpai sampai anda mendapatkan informasi yang lengkap tentang Gubernur. Anda harus bertanya dulu Gubernur dari daerah mana, berkuasa pada periode berapa, barulah anda berjumpa dengan sosok dibalik pangkat Gubernur. Kalau anda ingin berjumpa dengan Gubernur DKI Jakarta periode 2012-2017, maka sosok di balik pangkat tersebut adalah orang bernama Joko Widodo atau akrab di panggil dengan Jokowi. Kalau yang anda maksud Gubernur DKI periode sebelumnya maka bukan Jokowi orangnya, atau anda ingin berjumpa dengan Gubernur Jawa Barat, anda harus mempunyai data spesifik tentang tahun Gubernur itu memerintah sehingga anda akan berjumpa dengan sosok dibalik pangkat tersebut.
Pangkat kerohanian tertinggi adalah Rasul, utusan Allah yang antara dia dengan Allah tidak memiliki jarak. Apa yang diucapkan Rasul itupula yang diucapkan Allah dan sebaliknya. Rasul ibarat speaker yang menterjemahkan getaran Maha Dahsyat dari Alam Rabbani menjadi bahasa yang bisa dipahami oleh manusia di bumi. Kenapa Rasul adalah pangkat kerohanian tertingggi karena dalam diri Rasul bersemayam Nur Allah yang Maha Tinggi, bersemayam wasilah sebagai alat komunikasi antara manusia dengan Allah. Jibril dan Malaikat memiliki pangkat kerohanian di bawah Rasul. Kalau manusia bisa mengenal Rasul secara zahir bathin maka dia sudah pasti bisa mengenal Jibril dan melaikat juga secara zahir bathin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar