Laman

Sabtu, 16 Agustus 2014

TOBAT 7


Seorang hamba tidak layak meninggalkan tobat hanya karena takut terjerumus dalam dosa yang lain. Sebab hal itu merupakan was-was setan yang ditiupkan ke dalam hati hamba agar dia menunda-nunda tobat. Sudah semestinya hamba segera bertobat dan tidak menunda-nundanya. Sebab ajal sungguh tersembunyi, hamba tidak tahu kapan kematian akan datang mengagetkannya, tidak pula dia tahu kapan sakit akan menimpanya, sakit yang mengantarkannya kepada kematian. Sudah semestinya hamba berusaha keras melakukan pertobatan. Sumgguh, modal pokok Islam beriman adalah iman, dan iman bisa lenyap bila tiada tobat dan terjerembab di lembah dosa. Sehingga dia abadi di neraka Jahanam.

Al-Iman al-Ghazali r.a. berkata, “Siapa yang tidak bersegera bertobat dengan menunda-nundanya, dia berada di antara dua bahaya besar yang amat mengkhawatirkan. Pertama, gelap semakin berlipat meliputi hatinya karena maksiat hingga berkarat dan tidak bisa dihapus. Kedua, didahului sakit atau mati hingga dia tidak memiliki keluarga untuk berusaha menghilangkan karat tersebut.”

Karena itu ada keterangan di dalam atsar, “Sesungguhnya jeritan penghuni neraka kebanyakan disebabkan oleh perilaku menunda-nunda tobat. Dan kebanyakan jeritan mereka adalah, ‘O…sungguh malang orang yang menunda-nunda .’ Orang yang hancur binasa tidak hancur binasa selain karena menunda-nunda. Tidak ada yang selamat selain orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat (qalbun salim).”

Maka segeralah bertobat sebelum menginjak tempat yang amat menakutkan. Oh, betapa tempat itu sungguh sempit, tak ada kelapangan, pasti berbahaya, jalannya sungguh pekat, tempat-tempat membinasakannyademikian samar, huniannya kekal, deritanya abadi, teriknya dipurnakan, jeritannya amat tinggi menyayat, minuman penghuninya timah panas, dan siksanya sungguh lestari. Zabaniyyah melebur jasad mereka, lalu Hawiyah menghimpun mereka. Di dalamnya mereka melolong, menjerit-jerit meneriakkan kesengsaraan. Jilatan api terus menyambar-nyambar, membakar mereka. Di sana mereka berangan-angan lalu menjadi lenyap dan tak lagi ada, tetapi sungguh mereka tak akanpernah lepasdari siksa. Kedua kaki mereka diikat hinga ke ubun-ubun, wajah mereka menghitam oleh kehinaan maksiat. Mereka memanggil-manggil dari lorong-lorong dan labirinya karena siksa tak henti mendera, ‘Wahai Malik, ancaman itu sungguh nyata telah menimpa kami. Wahai Malik, api sudah dinyalakan untuk kami. Wahai Malik, nanah sudah mengalir dari kami. Wahai Malik, besi belenggu telah memberati kami. Wahai Malik, kulit tubuh kami telah terkelupas. Wahai Malik, keluarkanlah kami darinya, kami sungguh tidak akan kembali (berbuat dosa)!” Namun setelah sekian lama, Malik hanya menjawab, “Tidak mungkin. Sudah terlambat. Tidak ada yang keluar dari tempat kesengsaraan ini. Tetap di sana, rasakanlah murka Dia.”


Ya Rabb, anugerahillah aku tobat hingga aku bertobat

dan ampunilah aku, sungguh dosa-dosa yang telah menyusahkan aku

Matikanlah diriku dalam pelukan agama Muhammad

Hidupkanlah hatiku di hari-hari hati menjadi hidup

Wahai Sang Penawar penyakit, sembuhkanlah sakitku

Ya Illahi, aku sungguh bermohon kepada-Mu

Obatilah hatiku dari penyakit yang telah menutupinya

Sungguh, para tabib telah kebingungan dengan penyaktku

Wahai Sang Pengobat hamba, anugerahilah aku kedekatan

tak mungkin aku kecewa saat aku mengharap Engkau

Hentikanlah kegelincinganku dan berdermalah kepadaku dengan kedekatan

Sungguh penyakitku akan sembuh dengan kedekatan dari-Mu

Betapa rusak malam saat aku bermaksiat kepada-Mu

ia telah berlalu menyisakan dosa untukku

Apalah muslihatku, aku sungguh telah bermaksiat kepada-Mu karena bodoh

bagaimana aku tidak malu, padahal Engkau sungguh senantiasa mengawasi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar