Laman

Rabu, 29 Januari 2014

Sifat Jamal, Sifat Keindahan Alam Semesta Disisi Zat Allah


Pada artikel yang lalu sudah diulas tentang sifat kebesaran Allah (Sifat Jalal) dan sifat Kamalat, maka kali ini akan diulas tentang sifat Jamal yang merupakan sifat Keindahan. Dengan demikian sifat Jamal ini akan melengkapi pembahasan alam semesta disisi zat Allah.

Sifat Jamal, Sifat Keindahan

Sifat Jamal berasal dari pusat perbendaharaan alam semesta yang tiada batasnya, alam yang disebut Baitil Makmur dimana Allah kemudian menurunkan sifat-Nya dalam bentuk:

Tubuh atau fisik manusia seluruh makhluk alam semesta yang bersifat keindahan sebagai tempat mata memandang segala pergerakan ruh yang diperintahkan kalbu. Tanpa tubuh perbuatan ruh tidaka akan jelas, tetapi dengan memandang perbuatan tubuh maka semakin jelas hakikat setiap manusia sebagaimana Imam Ghazali mengatakan "Perbuatlah apa yang kau inginkan, katakanlah apa yang kau suka, nanti akan kukatakan siapa dirimu!"
Seluruh materi yang termasuk Benda Padat kecuali air dan angin atau udara yang menjadi kebutuhan utama makhluk hidup (oksigen). Materi padat yang dimaksud meliputi alam semesta tanpa terkecuali benda langit.
Tanah tempat berpijak manusia di bumi, tanah sebagai tempat kehidupan dan pertumbuhan dan perkembangan segala makhluk yang hidup. Tanah di Bumi sebagai tempat yang menyediakan kebutuhan manusia seperti hasil tambang, hasil laut, hasil hutan dan hasil pertanian. Tanah sebagai tempat kelahiran manusia, tempat kematian dan sebagai tempat hari berbangkit nantinya.
Akal Pikiran manusia yang memiliki derajat rendah atau pemula, dimana alam pikiran ini digunakan untuk membangun prihal duniawi meliputi cabang ilmu Ekonomi dan ilmu Hukum dunia (diantaranya jaksa, hakim, pengacara). Sementara akal pikir yang digunakan untuk membangun urusan ukhrawi meliputi ilmu Muamalah dan cabang ilmu Fiqih (diantaranya harta warisan, perkawinan, hukum peperangan, dll).
Alam Baitil Makmur kemudian menurunkan Ilmu Syariat Fiqih untuk membersihkan dan menyucikan tubuh manusia dari hukum-hukum yang diharamkan Allah.
Alam Hewan dan Tumbuhan yang berasal dari Baitil Makmur diturunkan Allah untuk menjadi makanan manusia, pembantu manusia dalam kehidupan (seperti kuda dan kerbau), sebagai contoh dan perbandingan bagi manusia, dan menjadi perhiasan kehidupan (seperti hewan yang dipelihara dalam sangkar).

taman gantung babilonia, sifat jalal, sifat keindahan

Yang harus dipahami bahwa manusia bukan makhluk yang berasal dari Bumi melainkan makhluk langit dimana penciptaannya dimulai dari Ayah seluruh manusia, yaitu Nabi Adam sebagai khalifatullah yang tercipta di alam Nadzarullah atau surga saat ini. Tetapi pada kenyataannya, dengan adanya sifat Jamal, sifat keindahan yang diberikan-Nya dari Baitil Makmur membuat manusia terlupakan dari mana mereka berasal, dan kemana mereka akan kembali setelah kematian nantinya. Jika manusia itu memilih jalan yang salah dengan mengagungkan surga dunia, maka Allah telah menegaskan bahwa mereka akan kembali ke tempat penyiksaan yang teramat panas dan menyakitkan.

Allah berfirman: "Di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu mati, dan dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan. Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.(Al-A'raaf, 7:25-26)

Sifat Jalal diberikan-Nya semata-mata untuk membantu manusia dalam melewati kehidupan yang sangat singkat di Bumi, dimana manusia bisa menggunakan segala perlengkapan dunia yang telah disediakan, mencukupi kebutuhan hidup, hingga nantinya menggunakan sifat keindahan Allah pada jalan yang lurus sesuai yang disebutkan dalam Quran.

...dan datanglah Tuhanmu; sedang malaikat berbaris-baris. Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam; dan pada hari itu ingatlah manusia, akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya. Dia mengatakan: "Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini". Maka pada hari itu tiada seorangpun yang menyiksa seperti siksa-Nya. dan tiada seorangpun yang mengikat seperti ikatan-Nya. (Al-Fajr, 89:22-26)

Bumi semata-mata bukan tempat akhir kehidupan manusia, tidak ada istilah reinkarnasi atau terlahir kembali karena ruh manusia hanya diberi kesempatan satu kali. Sifat Jamal hanya sebagai pelengkap kita hidup di dunia dan bukan sebagai pengganti surga, surga itu sedang menunggu manusia yang berjalan lurus kepada-Nya dengan sifat Jamal dan keindahan yang abadi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar