Laman

Selasa, 26 April 2016

Wudhu Kita Menyelamatkan Kita


Wudhu. Sebuah amalan yang kerap dianggap biasa namun memiliki fadhilah yang amat luar biasa. Wudhu kerap dimaknai hanya sebuah ritual membasuh anggota tubuh sebelum shalat. Padahal, maknanya jauh melebihi itu.
Wudhu mendapat tempat penting dalam kitab-kitab fikih. Biasanya ia diletakkan di awal pembahasan bersama dengan bahasan bersuci. Bersuci khususnya wudhu menjadi pembuka amaliyah yang amat penting yakni shalat. Tanpa bersuci, maka tidak akan sah shalat seorang Muslim. Wudhu menjadi pembuka amal-amal lain yang terlihat lebih besar.
Makna wudhu secara spiritual juga amatlah membekas. Wudhu menjadi terminal seorang Mukmin untuk membersihkan diri. Bersih secara fisik maupun suci secara batin. Basuhan air ke anggota tubuh saat berwudhu akan menghilangkan hadas. Basuhan yang sama juga akan menggugurkan dosa.
Siapakah makhluk yang bernama manusia yang berani mendeklarasikan diri bebas dari dosa? Hanya Nabi Muhammad SAW yang memiliki sifat maksum. Selebihnya, termasuk kita, adalah gudangnya khilaf dan alpa. Dosa-dosa yang amat kotor jikalau ia nampak itu akan mengerak dalam hati. Menutup kalbu hingga hitam pekat. Sehingga sebuah cahaya akan kesulitan menembus dindingnya dan menghantarkan hidayah.
Allah SWT yang Maha Pengampun menyiapkan banyak sarana untuk mencuci dan membilas dosa-dosa kita agar tak makin legam. Wudhu, adalah salah satu diantara sarana penyucian diri.
Adalah Amr bin Abasah yang bertanya kepada Rasulullah SAW dalam sebuah hadis riwayat Imam Muslim. “Wahai Rasulullah beritahukan kepadaku tentang wudhu?”
Pertanyaan Amr ini akan menjadi sejarah sekaligus kabar gembira bagi umat Islam. Kabar gembira karena jawaban sang Nabi SAW nantinya, akan mengurai panjang fadhilah wudhu dalam menggugurkan dosa-dosa anggota tubuh.
Menggugurkan Dosa Lisan
“Tidaklah salah seorang dari kalian mendekati air wudhunya, kemudian berkumur-kumur, memasukkan air ke hidungnya lalu mengeluarkannya kembali, melainkan gugurlah dosa-dosa di (rongga) mulut dan rongga hidungnya bersama air wudhunya,” terang Rasulullah SAW.
mulut, dan rongga hidung. Betapa banyak dosa yang telah dihasilkan dari kedua organ yang menempel dalam tubuh kita ini. Betapa banyak kata-kata tajam yang menyakiti hati saudara seiman.
Rasanya mudah sekali lisan ini mengucap sumpah serapah hanya karena anak kita berbuat kesalahan. Tak jarang mulut kita membentak orang tua yang sudah uzur saat kesadaran mereka seolah kembali seperti anak kecil. Lisan kita mungkin salah satu anggota tubuh yang amat banyak menghasilkan noda dan dosa.
Wudhu dengan cara berkumur, adalah salah satu ikhtiar kita sebagai manusia untuk menginsyafi. Bertapa mulut adalah anggota tubuh yang harus banyak dibersihkan. Jika kita menyadari sepenuh hati, semoga Allah SWT berkenan mengampuni dosa-dosa lisan lewat wudhu kita.
Menghapus Dosa Wajah
“Kemudian (tidaklah) ia membasuh mukanya sebagaimana yang Allah perintahkan, melainkan gugurlah dosa-dosa wajahnya melalui ujung-ujung janggutnya bersama tetesan air wudhu,” lanjut Nabi SAW bersabda.
Wajah kita adalah etalase. Semua mimik yang kita lakukan tercatat rapi dalam buku amal. Saat kita bermuka masam menghadapi seseorang, saat wajah menipu orang lain dalam tampilan yang mengesankan. Padahal dalam hati tak demikian adanya. Sungguh apa yang wajah ini lakukan, Allah SWT tak akan lepas mengawasinya.
Di wajah kita terdapat sepasang mata. Mata adalah pintu masuk dari berbagai godaan-godaan. Mata kita mungkin banyak “menikmati” hal-hal yang diharamkan oleh Allah SWT. Mata kita mungkin melihat apa-apa yang seharusnya tidak kita lihat. Salah satu panah beracun yang berbahaya adalah pandangan yang tidak pada tempatnya.
Kita berharap, dengan basuhan yang amat kita sadari dalam wudhu itu, Allah SWT berkenan menghapus segala maksiat yang muncul dari wajah kita.
Menghanyutkan Dosa Tangan dan Kaki
“Kemudian,” lanjut Nabi SAW ,”(tidaklah) ia membasuh kedua tangannya sampai ke siku, melainkan gugurlah dasa-dosa tangannya bersama air wudhu melalui jari-jari tangannya.”
Kita yang paling paham seberapa banyak tangan kita berlumuran dosa. Di era media sosial dan gawai yang menyita banyak waktu kita, jemari kita memainkan peranan penting. Apakah kita menggunakannya untuk kesia-siaan atau sebuah kemanfaatan? Kita yang paling tahu. Yang pasti Allah menyiapkan basuhan tangan dan jemari saat wudhu sebagai sarana penggugur dosa. Tinggal kita apakah bersungguh-sungguh ingin dimaafkan dosa-dosa jemari kita atau hanya menggugurkan ritual wudhu yang kerap kita lakukan.
“Kemudian (tidaklah) ia mengusap kepalanya, melainkan gugur dosa-dasa kepalanya bersama air melalui ujung-ujung rambutnya, kemudian (tidaklah) ia membasuh kedua kakinya, melainkan gugur dosa-dasa kakinya bersama air melalui ujung-ujung jari kakinya,” sabda Nabi SAW menutup penjelasannya.
Kepala adalah tempat kita berpikir, tempat lintasan pikiran dan niat muncul. Mungkin lisan kita selamat dari mencerca saudara dan sejawat. Namun belum tentu lintasan pikiran kita selamat dari mencari-cari keburukan orang lain.
Kita juga amat perlu bertanya. Berapa langkah kaki yang kita lakukan setiap hari? berapa yang melangkah ke tempat-tempat baik dan berapa langkah yang menuju tempat-tempat maksiat?
Wudhu, seperti sabda Nabi SAW semoga bisa menggugurkan dosa-dosa anggota tubuh kita yang penuh dosa ini. Jika dalam sehari minimal kita melakukannya lima kali, tentu dengan kesadaran dosa kita yang amat menggunung ini, wudhu bisa menjadi ritual yang dilakukan jauh lebih banyak dari ritual wajib yang lima kali itu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar