Laman

Selasa, 26 April 2016

Zuhud Terhadap Dunia


Zuhud terhadap dunia adalah rahasia Rasulullah agar dicintai “penduduk” langit. Rahasia ini sesuai dengan firman Allâh yang berbunyi: “…Katakanlah kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertaqwa…” (QS al-Nisâ’ [4]: 77).
Dalam ayat lain Allâh berfirman: “(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikanNya kepadamu. Dan Allâh tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS al-Hadîd [57]: 23).
Allâh adalah Pencipta dunia, maka cintai Allâh bukan dunia. Sebab mencintai dunia berarti menduakan-Nya. Lantas bagaimana mungkin kita dapat dicintai-Nya?
“Dunia ibarat bayang-bayang. Jika ia dikejar maka ia akan menjauh, sebaliknya jika dijauhi maka ia akan mengejar. Oleh karenanya sikapi dunia dengan sewajarnya. Dalam sebuah hadis, Rasulullah bersabda bahwa sikap bijak yang harus lahir dari diri seorang muslim dalam menyikapi harta dan kekayaan yang dimiliki adalah selalu bersyukur dengan jalan melihat standar orang lain yang berada di bawahnya. Sehingga dengan cara itu, ia akan selalu merasa banyak dan cukup dengan nikmat yang telah diberikan Allâh kepadanya.” (HR. Muslim).
Rasulullah sangat zuhud terhadap dunia. Sebagai bukti, kita dapat meneladani sejarah hidupnya dalam menyikapi tiga syahwat dunia, yaitu harta, tahta dan dunia. Terhadap harta, Rasulullah tidak pernah berlebihan.
Dikisahkan dahulu Rasulullah pernah memberikan harta terakhirnya kepada seorang sahabat yang membutuhkan. Ketika ditanya sahabat, Rasulullah menjawab: “Rejekiku besok sudah ditetapkan Allâh.”
Terhadap tahta, Rasulullah juga tidak pernah berambisi. Dalam peristiwa pemindahan hajar aswad (batu), para ketua kabilah hampir berseteru hanya karena ingin memindahkan batu. Kemudian Rasulullah mengambil kain untuk tempat batu dan meminta setiap ketua kabilah memegang ujung kain. Perselisihan itupun berakhir dengan perdamaian. Adapun terhadap wanita, Rasulullah membuktikan dengan mempersunting Khadijah sebagai isteri pertamanya.
>>> Zuhud terhadap Apa yang Ada pada Manusia
Zuhud terhadap apa yang ada pada manusia adalah rahasia Rasulullah dicintai “penduduk” bumi. Al-Junaid berkata, “Zuhud ialah keadaan jiwa yang kosong dari rasa memiliki dan ambisi menguasai.”
Bahkan Alî bin Abî Thâlib menjelaskan, “Zuhud berarti tidak peduli, siapa yang memanfaatkan benda-benda duniawi ini, baik seorang yang beriman atau tidak. Kedua pernyataan tersebut mengisyaratkan kepada kita betapa tidak perlunya mengurusi apa yang ada pada orang lain. Terlebih berambisi ingin memiliki dan menguasainya.”
Rasulullah sangat zuhud terhadap apa yang dimiliki orang lain. Rasulullah tidak pernah mengemis terhadap sesuatu hal duniawi yang orang lain miliki. Sebab, pada dasarnya manusia adalah makhluk egois dan rakus. Semakin kita mempunyai rasa ingin memiliki dan menguasai apa yang dimiliki orang lain, maka dapat dipastikan orang tersebut akan benci kepada kita karena merasa apa yang dimilikinya akan terancam. Benarkah demikian? Renungkanlah.
Demikianlah rahasia Rasulullah yang menjadikannya dicintai oleh “penduduk” langit dan bumi. Kedua kunci dari rahasia Nabi berpangkal dari sikap zuhud. Berbagai penjelasan dan dalil di atas menegaskan bahwa zuhud adalah konsep yang luhur dan mendapat pengakuan dalam Islam. Zuhud merupakan bagian penting dalam usaha pendidikan jiwa dan pribadi setiap Muslim. Kendati demikian, patut diingat pesan al-Ghazali yang menyatakan bahwa seseorang yang meninggalkan harta dan dunia belum tentu dikategorikan sebagai orang yang zuhud.
Sebagai penutup, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan agar terhindar dari lilitan ketergantungan pada dunia, yaitu:
[1] Tidak meletakkan hal-hal duniawi di hati. Zahid akan meletakkan dunia di tangannya, tidak dihatinya.
[2] Tidak hanyut dalam memburu kekayaan duniawi. Betapa banyak kehancuran dan kerusakan di bumi karena kerakusan manusia.
[3] Tidak menumpuk kekayaan duniawi. Agar tidak cinta dunia, maka kita harus memposisikannya sebagai jalan (wasilah), bukan sebagai tujuan (ghayah).
[4] Segera menginfaqkan kekayaan duniawi yang diperoleh.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar