Laman

Sabtu, 12 September 2015

Amal Akhiratmu, Mana ?




Dunia, semuanya adalah hikmah, sedangkan amal akhirat adalah Qudrat. Dunia ini dibangun di atas hikmah dan akhirat dibangun di
atas Qudrat. Karena itu jangan abaikan amal di negeri hikmah, dan jangan menganggap enteng QudratNya di negeri Qudrat. Beramallah di negeri hikmah dengan hikmahNya, dan jangan menyerahkan diri pada takdirNya.
Jangan jadikan takdir sebagai bentuk penyerahan dirimu, dan anda beralasan dibalik takdir, lalu anda meninggalkan amaliyah. Penyerahan atas nama takdir hanyalah perbuatan orang-orang malas, karena posisi penyerahan diri pada takdir itu bukan pada soal-soal perintah dan larangan.
Orang beriman tidak tenteram dengan dunia ini dan apa yang ada di dalamnya, bahkan tidak selera dengan bagian-bagian duniawinya. Ia lebih senang jika hatinya menuju kepada Allah azza wa-Jalla. Ia menetap di sana hingga diterimaNya. Ia, lari dari dunia, hingga ia meraih izin untuk masuk kepadaNya. Rahasia batinnya pergi, lalu menuju hatinya, dan hatinya meraih nafsunya yang tenang (muthmainnah) serta fisiknya yang patuh. Pada saat seperti itu, tiba-tiba ia tidak tertambat pada keluarganya, seperti ada sela kehampaan antara dirinya dengan mereka, tak peduli dengan kejahatan makhluk lain, seperti ada halangan antara dirinya dengan mereka, hingga hanya dia sendiri dan Tuhannya Azza wa-Jalla. Seakan-akan makhluk lain tidak diciptakan, dan seakan hanya dia sendirilah yang diciptakan Allah Azza wa-Jalla. Allah Azza wa-Jalla Sang pelaku dan dirinya satu-satunya obyek. Ia yang dicari dan Allah Yang Mencari. Seakan Allah Azza wa-Jalla adalah akar dan dia cabang ranting. Ia tidak melihat selain Dia, dan lainnya tidak melihatnya. Ia terbungkus dari makhluk.
“Kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkan kembali…” (Abasa: 22)
Ia hadir untuk mereka demi kebajikan dan memberikan petunjuk kebenaran kepada mereka, dan ia sabar jika disakiti mereka, demi meraih ridho Allah Azza wa-Jalla. Para Sufi itu adalah penjaga hati dan rahasia batin, yang senantiasa teguh bersama Allah azza wa-Jalla, bukan bersama lainNya. Mereka beramal untukNya bukan untuk lainNya.
Tetapi hai munafik, anda tidak pernah meraih informasi kebajikan mereka, tidak mencerap keimanan bahkan tidak meraih kebahagiaan bersama Allah Azza wa-Jalla. Dalam waktu dekat anda mati, dan menyesal setelah mati. Padahal anda telah mendapatkan wacana yang fasih dan keelokan syurgawi, tetapi itu tidak memberi manfaat bagimu. Kefasihan itu buat qalbu, bukan untuk wacana ucapan. Menangislah seribu kali atas dirimu dan yang lain.
Hai orang yang hatinya mati! Wahai orang yang menghindar dari kaum sufi. Wahai orang yang banyak mengatur dan terhijab dari dirimu sendiri, dari makhluk dan dari Tuhanmu Azza wa-Jalla: “Oh Tuhanku, sungguh aku terbungkam, maka bukakanlah ucapanku dariMu, hingga manusia meraih manfaat dari ucapanku, memberikan kesempurnaan pada mereka di hadapanku. Jika tidak, kembalikan diriku dalam kebungkaman.”
Wahai kaumku, aku mengajak kalian pada “kematian merah” yaitu bentuk perlawanan terhadap hawa nafsu, watak naluri, syetan dan dunia, serta keluar dari makhluk, dan meninggalkan selain Allah azza wa-Jalla secara total. Dan berjuanglah kalian dalam situasi kondisi ini, jangan sampai kalian putus harapan, karena Allah Azza wa-Jalla berfirman:
“Setiap hari Dia dalam urusanNya.” (Ar-Rahman 29)
Mohonlah padaNya menurut kadar QudratNya. Mohonlah padanya dari sisi Qudrat, bukan dari sisi hikmah. Mohonlah padaNya dari sisi IlmuNya, bukan dari sisi amalmu dan kemampuanmu. Berdiamlah di hadapanNya di atas telapak kehangusan dari segala hal. Jangan mencoba untuk merekayasa di hadapanNya dan jangan pula menakar-nakar takdir di hadapanNya, serta jangan mereka-reka ketergantungan padanya. Jangan anda hindari aturanNya dengan memilih aturanmu hingga terhempas pada kebodohan. Siapa yang tidak mengamalkan ilmuNya maka ia bodoh. Namun, bila ia menjaganya dan mengamalkan makna-maknanya, maka pengetahuan itu akan mengajari anda untuk melaksanakannya tanpa condong pada makhluk. Karena mengamalkan ilmu itu akan mengembalikan dirimu kepada Allah azza wa-Jalla, membuat anda zuhud dengan dunia, dan menajamkan mata batin anda, untuk menjauhkan dirimu dari berhias lahiriyah dan memberi inspirasi untuk menghias batiniyah. Disinilah Tuhanmu Azza wa-Jalla memberikan pelimpahan padamu, karena anda telah menjadi baik di hadapanNya:
“Dan Dia memberikan pelimpahan (wilayah) kepada orang-orang yang shaleh.” (Al-A’raf: 196)
Allah Azza wa-Jalla melimpahkan anugerah pada lahirnya, dan batin mereka mendidik lahirnya melalui Tangan HikmahNya, sedangkan batinnya berada di Tangan IlmuNya. Hingga mereka tidak takut dengan lainNya, tidak pula berharap kepada lainNya, tidak meraih kecuali dariNya, tidak memberi kecuali ia disertai rasa takut jika ada selain Dia, dan ia senantiasa bahagia bersamaNya, bertentraman denganNya.
Saat ini adalah akhir zaman, begitu banyak perubahan dan pergeseran. Inilah zaman lengang hampa dan zaman kemunafikan. Hai orang munafik, anda adalah budak dunia dan budak makhluk, karena anda penuh pamer dengan mereka, beramal untuk mereka, sedangkan anda lupa pada pandangan Allah Azza wa-Jalla kepadamu. Kelihatannya anda beramal untuk akhirat, sedangkan semuanya bertujuan dunia. Nabi saw, bersabda:
“Bila seseorang berias dengan amal akhirat tetapi ia sendiri tidak berhasrat pada akhirat dan tidak mencari akhirat, maka nama dan nasabnya dilaknat di langit.” (Hr. As-Suyuthy dalam Jam’ul Jawami’).
Aku lebih tahu dibanding kalian hai orang-orang munafik melalui jalan hikmah dan ilmu pengetahuan dariNya, namun aku menutupi kalian dengan Tutupnya Allah Azza wa-Jalla.
Celaka! Anda tidak malu pada tubuhmu, tidak membersihkannya dari maksiat lahiriah dan najis-najisnya. Anda mengaku menyucikan batin dan menyucikan qalbu, tentu tidak benar. Bagaimana rahasia batinmu, anda tidak mendidik diri dengan makhluk lantas anda mengaku beradab dengan Allah Azza wa-Jalla. Sang guru tidak rela padamu, anda tidak beradab dengannya, sedangkan anda menerima perintah-perintahnya, dan anda banyak pamer selama ini.
Tak ada komentar bagimu, melainkan jika anda menegakkan tauhidmu di atas kakinya, dan mengokohkan dirimu di hadapan Allah Azza wa-Jalla, lalu anda keluar dari kulit telurmu, dan anda duduk di pangkuan kelembutan di bawah sayap-sayap kemesraan denganNya, disana anda temukan rasa cinta pada keikhlasan dan menegak air minum musyahadah. Anda tetap disana sampai anda menjadi induk ayam, maka disitulah anda menjadi penjaga bagi anak-anak ayam, memberikan pengaruh positif pada mereka dengan penuh kasih sayang, mengingatkan manusia siang dan malam, agar mereka taat kepada Tuhannya Azza wa-Jalla.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar