Laman

Sabtu, 12 September 2015

Siapa, Dari Apa, Untuk Apa ?


Sungguh celaka kamu. Anda telah benar-benar mencampur antara cinta dunia dengan takabur. Dan dua karakter itu tidak akan membawa keberuntungan selama-lamanya, kecuali harus bertobat dari keduanya.
Cerdaslah anda ini. Siapa anda, dari apa anda dicipta, untuk apa pula anda diciptakan? Karena itu jangan sombong. Tidak ada orang yang sombong kecuali orang yang bodoh pada Allah Azza wa-Jalla, bodoh pada Rasulullah saw, pada orang-orang sholeh dari para hambaNya.
Hai orang yang picik akal, anda meraih keluhuran melalui kesombongan? Balikkan, anda pasti benar. Sungguh Nabi Saw, bersabda:
“Siapa yang rendah hati ia akan diangkat derajatnya oleh Allah Azza wa-Jalla, dan siapa yang sombong Allah Azza wa-Jalla akan merendahkannya.” (Hr Ahmad)
Siapa yang rela dengan akhirat ia menjadi yang utama. Siapa yang rela dengan sedikit ia akan meraih yang banyak. Siapa yang rela dengan raha hina di hadapanNya ia akan meraih kemuliaan.
Relalah dengan kekurangan, sampai masalahnya berbalik dalam hakmu dari kerendahan takdirmu, dan anda rela, maka Allah Azza wa-Jalla Sang Maha Kuasa mengangkat anda atas segalanya.
Tawadhu’ (rendah hati) dan adab yang bagus mendekatkan dirimu kepadaNya, sedangkan takabur dan su’ul adab (adab buruk) akan menjauhkan dirimu dari kepatuhan yang bisa memberbaiki dirimu dan mendekatkanmu padaNya, sedangkan maksiat merusak dirimu dan menjauhkanmu dari kepatuhan padaNya.
Anak-anak, jangan sampai mengikutkan agama pada buah tin. Jangan kau ikutkan agamamu dengan buah tin-nya para penguasa, para raja dan orang-orang kaya, serta pemakan harta haram. Bila anda makan dengan memanipulasi agamamu, hatimu bisa menghitam, karena anda telah menyembah makhluk.
Hai orang yang terhinakan, bila ada cahaya di hatimu, pasti engkau memisahkan antara mana yang haram, syubhat dan mubah. Memisahkan mana yang mencerahkan dan mana yang menggelapkan hatimu, mana yang mendekatkanmu dan mana yang menjauhkanmu.
Hai si bodoh, aku tidak kenal kecuali usaha dan tawakkal. Usaha adalah permulaan iman, dan ketika iman kuat langsung meraih dari Allah Azza wa-Jalla, setelah hilangnya perantara antara dirimu dengan DiriNya. Bila iman telah menguat anda mengambil dari Allah Azza wa-Jalla dari tangan makhluk melalui perintahNya.
Makna perantara dimaksud adalah keterpakuan hati pada apa yang ada di tangan makhluk, dan syirik atas apa yang diperintahkan Allah Azza wa-Jalla. Ia meraih dari mereka namun tidak peduli atas pujian mereka, tidak peduli cacian mereka, penerimaan atau penolakan mereka. Bila diberi, ia melihat adanya kinerjanya Allah Azza wa-Jalla pada mereka, begitu juga ketika ditolak.
Begitulah kaum Sufi senantiasa bisu, tuli, dan buta dari segala hal selain Allah Azza wa-Jalla. Tak ada di sisi mereka kecuali Allah Azza wa-Jalla yang menolong dan merendahkan mereka, Dialah yang memberi dan menghalangi mereka, Dialah yang menimpakan bahaya dan manfaat pada mereka. Isi tanpa kulit dan bening di atas kebeningan, kebaikan di atas kebaikan. Itulah yang keluar dari hati mereka untuk semua makhluk. Karena tidak ada yang tersisa melainkan Allah Azza wa-Jalla. Di dalam lubuk paling dalam hanya tersisa dzikir khafy padaNya, bukan yang lain. Ya Allah, berikanlah kami rizki pengetahuan bersamaMu.
Sungguh celaka anda, karena anda menyangka bahwa anda mampu merias dirimu, kalau saja bukan kepastian niscaya akan turun padamu hai munafik, dan engkau terhinakan. Kalian jangan mengkawatirkan dalam kepalamu, ketika bersamaku. Karena aku tidak malu kecuali karenaNya Azza wa-Jalla, dan kepala orang-orang shaleh.
Seorang hamba ketika mengenal (ma’rifat) kepada Allah Azza wa-Jalla, makhluk berguguran dari hatinya, dan rontok dari hatinya, seperti rontoknya daun-daun kering dari pohon. Lalu secara total hatinya tidak menyisakan makhluk. Dari sisi hati dan rahasia batinnya, buta dari melihat mereka, tuli dari mendengar mereka.
Bila nafsu tenteram, selamatlah dalam menjaga anggota badan, lalu hati bisa pergi menuju Al-Haq Azza wa-Jalla mencari yang dari sisiNya, lalu keluar ke dunia dan mengendalikan diri, menegakkan kebaikan di dunia.
Itulah kebiasaan Allah Azza wa-Jalla dan kinerjaNya bagi orang yang sedang mencariNya. Dunia datang di saat bertepatan dengan bagian yang ia dapatkan dalam rupa perempuan tua bangka beruban yang lunglai , dunia mengabdi padanya bukan, dan ia meraihnya tidak dengan kegembiraan, karena hatinya tidak di dunia dan tidak menoleh sedikit pun pada dunia.
Anak-anak sekalian, kosongkan hatimu demi Tuhanmu, sibukkan jasadmu dan nafsumu dengan serius mengurus keluarga, sehingga anda bekerja melalui perintahNya dan anda beraktivitas untuk mereka melalui tindakanNya. Diamlah di hadapan Allah Azza wa-Jalla. Tidak meminta padaNya disertai kesabaran dan kerelaan lebih utama ketimbang meminta dan dan terus menerus meminta. Hapuslah pengetahuanmu dengan memilih pengetahuanNya, tinggalkan rekayasa pengaturanmu dan memilih aturan dariNya. Putuskan hasratmu karena hasratNya. Lepaskanlah akalmu ketika ketentuan dan takdirnya tiba. Lakukan itu semua bila anda menguingkanNya sebagai Tuhan, sebagai Penolong dan sebagai Tempat berserah.
Seharusnya anda tenang di hadapanNya bila anda ingin wushul (sampai) padaNya. Orang beriman itu intuisi dan hasrat citanya manunggal, karena tak ada yang tersisa melainkan intusi Allah Azza wa-Jalla pada hatinya, sedang ia tetap bersimpuh di pintu kedekatan padaNya Azza wa-Jalla.
Apabila kamantapan ma’rifatnya padaNya kokoh, maka terbukalah pintu, ia akan berhasil, lalu ia melihat apa yang tak mampu untuk diungkapkan. Intuisi itu bagi qalbu, sedangkan isyarat adalah ucapan tersembunyi dari dalam rahasia qalbu (sirr) yang telah fana’ dari nafsu dan hawa nafsunya serta akhlaknya yang tercela, dan sirna dari seluruh makhluk dalam suasana kesejahteraan, kesehatan, kebaikan dan kenikmatan. Dialah Sang pembolak balik hati yang menggerakkan segalanya, seperti pada Ashhabul Kahfi, Allah Azza wa-Jalla berfirman:
“Dan Kami membolak-balik kearah kanan dan kiri.” (Al-Kahfi 18)
Anak-anak sekalian…Dengarkan ini semua, dan berimanlah dengan semua itu, jangan klau dustai, jangan pula kau halangi dirimu dari kebajikan yang dating dari berbagai arah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar