Laman

Sabtu, 12 September 2015

Selaraskan diri dengan Allah


Hai kaumku, larilah kepada Allah Azza wa-Jalla, bergegaslah padaNya, jauh dari makhluk dan dunia dan segala selain Dia secara total. Menujulah kepada Allah Azza wa-Jalla dengan hatimu. Apakah kalian tidak mendengar firmanNya Azza wa-Jalla:
Hai kaumku, larilah kepada Allah Azza wa-Jalla, bergegaslah padaNya, jauh dari makhluk dan dunia dan segala selain Dia secara total. Menujulah kepada Allah Azza wa-Jalla dengan hatimu. Apakah kalian tidak mendengar firmanNya Azza wa-Jalla: “Ingatlah, kepada Allahlah segala urusan kembali.” (Asy-Syura, 53)
Anak-anak sekalian, janganlah anda memandang makhluk dengan mata keabadian. Tapi pandanglah dengan mata kefanaan. Jangan pandang mereka dengan mata ancaman dan manfaat, pandanglah mereka dengan mata lemah dan hina. Temukan Allah Azza wa-Jalla dan berserahlah padaNya, lalu jangan mengigau lagi atas apa yang sudah dituntaskan olehNya.
Dunia dan segala hal yang tampak, adalah hal yang sudah diurus oleh Allah azza wa-Jalla. Makhluk dengan segala masalahnya sudah diurus. Hati orang yang beriman harusnya kosong dari semua itu apalagi sudah memasuki alam Tajrid, ia harus lebih kuat dan kokoh di sana. Bila ada masalah dunia dan keluarga yang minta dipedulikan, ia akan menolong mereka dengan kemampuannya, namun hatinya sunyi dan kosong dalam segala hal, selain Allah Azza wa-Jalla. Hatinya tidak bergeser ketika dunianya tiada, bahkan ia tidak menginginkan atau mencari perubahan atas dunianya. Karena ia meyakini apa yang sudah ditentukan Allah Azza wa-Jalla tidak pernah berubah dan bagian rizki juga sudah tuntas, tidak kurang juga tidak lebih.
Karena itu ia tidak mau tambah juga tidak mau kurang, tidak menuntut ditunda atau dipercepat urusan dunianya. Sebab sudah tertera waktu dan kadarnya. Sedangkan umumnya makhluk stress dengan dunia, berburu dunia mencari yang lebih, atau ingin yang kurang, ingin cepat atau ditunda. Mereka ini adalah orang-orang gila.
Sebab siapa yang ridho kepada Allah Azza wa-Jalla akan berserasi dalam seluruh kondisi dan situasinya, lebih mencintai dan mengenalNya. Sisa usianya hanya untuk kepentingan cita-cita yang bisa menyelaraskan jiwanya dengan Allah Azza wa-Jalla, lalu ingin mendekatkannya. Lalu Allah swt berfirman:
“Akulah Tuhanmu.” (Thaha 21).
Pada saat Nabi Musa as, mengalami kebimbangan, itulah firman Allah swt, padanya.
Secara lahiriyah Allah swt, menyampaikan kepada Nabi Musa dan Nabi kita Muhammad saw, dan menyampaikan kepada hati sang arif secara batin, yang didengarnya atas rahmat dan kasih sayang yang lembut dariNya, sekaligus menghormati NabiNya – semoga sholawat dan salam padanya – sebagai mukjizat yang sifatnya lahiriyah dan karomah bagi para waliNya secara bathiniyah. Merekalah pewaris para Nabi yang senantiasa menegakkan agama Allah Azza wa-Jalla dan menjaga dari ulah syetan Jin dan syetan manusia.
Kalian ini tidak mengerti Allah Azza wa-Jalla dan RasulNya dan apa yang disampaikan kepadamu hai orang munafik. Anda tidak disana atau mengikuti mereka. Anda bisa baca Qur’an tetapi anda tidak apa yang and abaca, apa yang anda amalkan, dan bahkan anda membacanya untuk kepentingan dunia, bukan akhirat! Bahkan setelah itu pun anda masih menentang mereka. Karena itu berakal sehatlah, beradablah dan bertobatlah. Anda malah mengalami kebuan dari Allah Azza wa-Jalla, dari rasul dan wali-waliNya, bahkan dari pengetahuan anda dan makhluknya.
Lazimkan taubat dan diamlah, tafakkurlah akan maut anda, situasimu dalam kuburmu sampai anda mengenal ilmu pengetahuan. Beramallah dengan jiwa bersama Allah azza wa-Jalla hingga engkau dilimpahi cahaya yang memancar dunia akhirat. Terimalah apa yang kukatakan pada kalian, berjuanglah untuk menekuninya, janganlah bergantung pada masa depan duniamu, karena membuat anda stress. Lompatilah karena argument pemalas yang melamun masa depan tidak ada tempat bagi kami. Namun kita mengarahkan pada yang realistis-proporsional., kita menekuni dan mengamalkan. Tidak dengan “Seseorang berkata, kami berkata, kenapa, dan bagaimana?” Kami tidak mengintervensi Ilmunya Allah azza wa-Jalla, namun kami hanya menekuni, dan Dia melakukan apa yang Dia kehendaki.” (Al-Anbiya’ 23).
Bila perkaramu rampung, dekatlah pada Allah swt, hatimu padaNya, maka zuhudmu benar di dunia dan cintamu benar di akhirat, maka anda akan menemukan namamu tertulis di Pintu Taqarrubmu pada Tuhanmu Azza wa-Jalla, Fulan bin Fulan salah satu orang yang dimerdekakan Allah Azza wa-Jalla. Itulah yang tidak berubah, tidak diganti, tidak dikurangi dan ditambah, dan saat itulah syukurmu pada Tuhanmu Azza wa-Jalla semakin , aktivitas kebajikan dan kepatuhanmu pada Tuhanmu di hadapanNya semakin kuat. Namun pada saat yang sama hati anda tidak meninggalkan rasa takut padaNya, dan tidak meremehkan kuasaNya. Bacalah firman Allah swt:
“Allah melebur apa yang dikehendakiNya dan menetapkannya, dan di sisiNya adalah Ummul Kitab.” (Ar-Ra’d, 39) dan firmanNya:
“Dia tidak dimintai pertanggungjawaban, dan merekalah yang dimintai pertanggung-jawaban.”
Anda jangan berhenti pada yang tertera. Karena apa yang ditulis oleh Yang Maha Kuasa atas peleburan itu, pada saat yang sama Maha Kuasa menghapus apa yang tertera. Beradalah dalam keabadian taat, rasa takut, malu dan waspada hingga maut menjemput. Dan anda melangkah dari dunia menuju akhirat dengan jejak-jejak keselamatan. Maka anda akan aman dari perubahan,dan penggantian hai orang yang terjejali oleh kebodohannya, kemunafikannya dan perburuannya pada dunia. Hai pemakan barang haram! Bagaimana anda berharap meraih pencahayaan qalbu dan kejernihan hati serta bicara penuh hikmah, sedangkan kaum Sufi bicaranya karena darurat dan tidurnya karena kelelapan, makannya seperti orang sakit, dan itu dilakukan sampai mati. Mereka seperti malaikat saja yang difirmankan oleh Allah Azza wa-Jalla.
“Mereka tidak mengingkari apa yang diperintahkan Allah pada mereka, dan mereka melakukan apa yang diperintahkannya.” (At-Tahriim: 6).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar