Laman

Sabtu, 12 September 2015

Jangan Jual Agama Dengan Kekuasaan


Siapa yang rela pada akhirat, ia menjadi yang utama. Siapa yang rela dengan sedikit ia mendapatkan banyak. Siapa rela dengan kerendahan, kemuliaan bakal tiba. Ridholah dengan
ketakpunyaan hingga perkaranya berbalik pada anda dari kadar kerendahan dan rela dengannya, maka Allah Azza wa-Jalla menaikkan dirinya, Dia Yang Maha Kuasa atas segalanya. Disanalah anda meraih tawadhu’ dan adab yang bagus mendekati anda. Sedangkan takabur dan su’ul adab menjauhi dirimu. Taat membuatmu baik dan mendekatimu, sedangkan maksiat menjauhi dan merusakmu.
Anak-anak sekalian…. Jangan engkau jual agama dengan buah tin. Jangan engkau jual agamamu dengan buah tin para penguasa, para raja dan orang-orang kaya serta dengan memakan barang haram. Jika kalian makan melalui agamamu, hatimu menghitam. Bagaimana tidak menghitam sedang anda menyembah makhluk?
Wahai yang terhina… Bila saja di hatimu ada cahaya, pasti anda memisahkan mana yang haram, syubhat, mubah dan antara yang hitam di hati, melalui cahayaNya, dan antara mana yang mendekat pada hatimu dan menjauh dari hatimu. Hai si bodoh, aku tidak tahu kecuali usaha dan tawakkal pada Allah Azza wa-Jalla. Meraih melalui usaha, di awal iman, kemudian meraih dari Allah Azza wa-Jalla setelah tersingkapnya merantara antara dirimu dengan DiriNya. Bila hati kuat ia meraih dari Allah Azza wa-Jalla dari tangan makhluk atas perintah Allah azza wa-Jalla.
Adapun arti ucapanku, “hilangnya perantara” adalah keterpakuan hati pada perantara dan kemusyrikan ketika menjalankan perintah Allah Azza wa-Jalla, tuli dari pujian, cacian, dan penerimaan serta penolakan mereka. Ketika diberi ia hanya melihat tindakan Allah azza wa-Jalla, begitu juga jika gagal. Kaum sufi itu harus bias tuli, bisu dan buta dari segala hal selain Allah Azza wa-Jalla. Tidak ada yang di sisi mereka kecuali Dialah Sang Penolong, Dia yang merendahkan, memberi, mencegah bahaya yang menimpa mereka, dan memberi manfaat pada mereka.
Di sisi mereka hanya ada isi tanpa kulit, bening di atas bening, bagus di atas yang bagus. Semua makhluk keluar dari hati mereka. Tak ada yang tersisa selain Allah Azza wa-Jalla. Hanya ada dzikir yang rahasia padaNya, bukan pada yang lian. Ya Allah limpahi kami rizki pengetahuan tentangMu.
Hati-hati, anda telah menyangka dan merasa mampu membuka dirimu. Kalau tidak ada hambatan hukum, pasti aku datangi anda dan aku cela hai si munafik. Jangan khawatir posisi utamamu bersamaku, karena aku tidak malu kecuali hanya kepada Allah Azza wa-Jalla, aku tidak malu kecuali pada hamba-hambaNya yang saleh.
Sang hamba ketika mengenal Allah Azza wa-Jalla, makhluk-makhluk berguguran dari hatinya sebagaimana gugurnya daun-daun kering dari pohon. Yang tersisa sudah tiada lagi makhluk secara total, hati dan batinnya buta dari pandangan pada mereka, tuli dari mendengar ucapan mereka. Bila jiwa telah tenteram, maka selamatlah dalam menjaga badan, kemudian hati pergi menuju Allah Azza wa-Jalla, mencari yang dari sisiNya, kemudian turun ke dunia, sehingga bisa mengatur nafsu yang tegak dengan kemaslahatannya. Inilah tindakan dan cipta Allah Azza wa-Jalla pada para penempuhNya, ketika dunia dating pada mereka untuk memenuhi bagiannya dalam rupa orang tua yang penuh uban nan buruk rupa, lalu memberikan bagiannya, lalu dunia menjadi pembantunya, dan tak mengambilnya kecuali mengambil bagiannya saja, dan sama sekali tidak menoleh padanya.
Anak-anak sekalian… Kosongkan hatimu hanya bagi Tuhanmu Azza wa-Jalla, dan sibukkan badanmu serta nafsumu untuk keluarga, lalu anda menjalankan perintahNya, bekerja untuk mereka dengan tindakanNya.
Diam di hadapan Allah Azza wa-Jalla, tidak bertanya padaNya dengan penuh sabar dan ridho lebih utama ketimbang berdoa, meminta dan memohon. Hapuskan ilmumu pada IlmuNya, serahkan pengaturanmu pada pengaturanNya, putuslah hasratmu bertambat pada hasratNya. Singkirkan akalmu ketika takdir dan ketentuanNya tiba. Lakukan itu semuanya bila anda menghendakiNya sebagai Tuhan, Penolong dan Tempat berserah diri.
Diamlah di hadapanNya bila anda ingin wushul (sampai) padaNya. Kehendak dan cita orang beriman menyatu, hingga tidak memiliki lintasan sedikit pun kecuali lintasan yang datang dari Allah Azza wa-Jalla di hatinya. Ia mendekam di pintu TuhanNya Azza wa-Jalla. Bila ma’rifatnya mandiri, Allah membukakan pintu di hadapanNya, lalu dibalik itu, ia melihat sesuatu yang tak mampu diungkapkan dalam lintas hatinya dan isyarat, sebuah kalam yang tersembunyi dalam batin, senantiasa fana’ dari diri dan hawa nafsunya serta akhlak tercelanya, bahkan fana’ dari semua makhluk, dalam suasana penuh pemaafan, kebagusan dan kenikmatan. Dia menjadi objek dari tindakanNya seperti Ashabul Kahfi. Allah Azza wa-Jalla berfirman:
“Dan Kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri.” (Al-Kahfi 18)
Dengarkan ini hai anak-anakku, imanilah dan jangan engkau dustakan. Jangan sampai dirimu terhalang kebajikan dari berbagai arah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar