Laman

Sabtu, 12 September 2015

Lepaskan Dari Belenggu Dunia


Hai orang bodoh! Tinggalkan catatanmu, kemarilah dan duduk patuh di depanku.
Ilmu itu muncul dari bibir para Tokoh-tokoh Ilahi, bukan dari catatan buku, diraih dari sumber ruhani bukan dari wacana, diambil dari mereka yang fana’ dari dirinya dan dari makhluk, Baqo’ bersama Allah Azza wa-Jalla.
Lingkaran hakikat itu tergantung fana’ anda dari diri anda dan makhluk lainnya, kemudian berada pada wujud anda bersama-Nya. Matilah dari yang lain-Nya, lalu hiduplah bersama-Nya dan bagi-Nya.
Bergaullah dengan para pelayan Allah Azza wa-Jalla, mereka yang terus menerus di pintu-Nya. Kesibukan mereka hanyalah melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, berserasi dengan takdir-Nya, senantiasa beraktivitas bersama kehendak-Nya dan tindakan-Nya atas mereka.
Mereka tidak pernah kontra atas kehendak-Nya pada mereka begitu pula pada yang lain. Mereka tidak menentang apa yang didapatkan dari-Nya baik sedikit maupun banyak, baik bernilai tinggi maupun rendah.
Karena janganlah anda sibuk berorientasi pada tujuan nafsu anda ketika anda sedang sibuk dengan Allah azza wa-Jalla.
Para wali-wali Allah Azza wa-Jalla senantiasa bertugas memotivasi makhluk lain namun sama sekali tidak punya kepentingan dengan mereka, namun semata karena Ilham Allah pada mereka sebagai wujud rahmat bagi makhluk, sama sekali tidak punya keinginan menuntut balas dari makhluk untuk dirinya. Karena dirinya tenteram bersama-Nya, tak tersisa nafsu kesenangan dan hasrat yang berkaitan dengan dunia.
Anda menyangka dirinya seperti diri anda yang bodoh yang telah anda habiskan untuk berbakti pada dunia, memenuhi seleranya dan kesenangannya. Kalau saja akal anda sehat, pasti anda akan berpaling dari dunia, dan anda lebih sibuk dengan aktivitas Sang Pencipta dunia.
Yang benar anda diam atas jawaban-jawaban atau ajakan dunia dan anda merobohkan ucapan-ucapan dunia yang menghalangi anda. Dengarkan saja dunia itu seperti anda mendengarkan ocehan orang gila yang hilang akalnya. Jangan peduli dengan ucapannya dan ambisinya memburu kesenangan, kenikmatan dan kesantaian. Kehancuranmu dan hancurnya dunia karena anda menerima permintaan-permintaannya. Sedangkan kebaikan dirimu dan dunia, terletak pada kontramu pada dunia.
Nafsu itu apabila bisa patuh kepada Allah Azza wa-Jalla, rizkinya akan didatangkan dari berbagai penjuru. Bila ia maksiat dan ingkar, maka putuslah faktor-faktor rizkinya lalu ia terbebani oleh penderitaan, hingga ia bangkrut dunia akhirat.
Orang yang taat dan patuh pada Allah Azza wa-Jalla, senantiasa akan dilayani, kemana pun ia berada senantiasa menemukan bagian dari ridho kepada-Nya dan ia melaksanakan kewajiban tanpa beban sedikit pun, dengan senang hati tanpa terpaksa. Karena itu kosongkan hati dari segala hal selain Allah Azza wa-Jalla, sedangkan fisik tenang jauh dari sibuk berburu dunia dan laba keuntungannya.
Hai orang yang dilimpahi nikmat, bersyukurlah atas nikmat-Nya, jika tidak nikmat akan hilang dari tanganmu. Ikatlah sayap nikmat dengan syukur, bila tidak, ia akan terbang darimu. Orang mati adalah orang yang mati pada Tuhannya Azza wa-Jalla walau ia hidup di dunia.
Waspadalah, bagaimana memanfaatkan hidupnya, pada saat yang sama yang terbelenggu oleh kesangannya, kenikmatannya dan kemewahan dunia. Itulah yang disebut mati maknawi, bukan mati rupa.
“Ya Allah hidupkanlah kami bersamamu, dan matikan kami dari selain Diri-Mu.”
Wahai si tua dalam usia, namun kanak-kanak dalam watak. Sampai kapankah anda melawan watak naluri duniawimu, yang anda jadikan sebagai cita-citamu? Ketahuilah hasrat citamu itu adalah apa yang engkau hasratkan. Dan anda adalah budak bagi yang mengendalikan anda, jika kendali itu ada di tangan dunia, maka anda adalah budak dunia.
Jika anda terkendali oleh akhirat, anda adalah budak akhirat. Dan bila kendalimu di Tangan Allah Azza wa-Jalla, maka andalah hamba Allah Azza wa-Jalla. Begitu pula jika anda dikendalikan nafsu anda maka anda adalah budak nafsumu. Jika yang mengendalikan adalah hawa senangmu maka engkau budak hawa nafsumu, bila kendali itu ada di tangan makhluk maka engkaulah budak makhluk. Lihatlah kendali mana yang paling mendominasi.
Pasti mayoritas pengendali itu adalah berhasrat dunia dan minoritasnya adalah pengendali akhirat. Yang langka adalah yang berhasrat pada Tuhannya dunia dan akhirat.Pada yang terakhir inilah anda berguru dengan adab terbaik, jangan kontra dan menentangnya, anda akan rugi besar. Jangan sampai su’ul adab pada mereka, yang membuat anda malah hancur.
Jadilah anda orang yang berakal sehat. Tapi anda malah menentang Allah Azza wa-Jalla dengan amal-amal anda. Jangan kau samakan posisi anda dengan sayap nyamuk di sisi-Nya, melainkan anda harus benar-benar ikhlas dalam kesendirian dan seluruh kondisimu. Karena kekayaan yang tak pernah sirna adalah benar dan jujur serta ikhlas dan takut kepada Allah azza wa-Jalla, berharap pada-Nya dan kembali pada-Nya dalam segala situasi dan kondisi.
Tetaplah beriman, maka Dia akan menemuimu. Bila anda bertemu dengan salah seorang dari kalangan mereka ini, rendahkanlah dirimu dan pasrahkan dirimu padanya, jangan sampai anda kontra padanya. Diamlah dan jangan sampai anda su’ul adab dengan mereka. Diam atas apa yang anda tidak mengerti. Karena mengetahui dan pasrah diri atas apa yang anda tidak mengerti adalah Islam itu sendiri.
Hai orang yang lemah rasa yaqinnya. Dunia dan akhirat tidak anda raih, karena anda telah su’ul adab pada Allah Azza-wa-Jalla, dan sangkaan burukmu pada para wali Allah Azza wa-Jalla, para abdal Nabi-nabiNya yang telah diposisikan oleh Allah Azza wa-Jalla pada maqomnya. Mereka membawa benang amanah yang dibawa oleh para Nabi as, dan para shiddiqun. Allah menyerahkan kepada mereka, amal dan ilmunya para Nabi.
Mereka telah difanakan dari nafsunya, kesenangannya dan memadukan mereka pada-Nya dan memposisikan mereka di hadapan-Nya. Mereka telah menyucikan hatinya dari segala hal selain Allah Azza wa-Jalla, sedangkan dunia, akhirat dan makhluk ada di tangan mereka.
Allah memperlihatkan kekuasaanya dan mengajari mereka hikmah-hikmah-Nya dan mengajari mereka potensi kekuatan untuk mereka. Maka benarlah ucapan:
“Tiada daya dan kekuatan kecuali bersama Allah Yang Maha Luhur nan Agung.”
Mereka membernarkan dengan jiwa atas ucapan ini, lalu daya dan kekuatan mereka dan kekuatan makhluk fana’. Mereka berpegang teguh pada Kekuatan Allah Azza wa-Jalla. Maka Mu’adz bin Jaba ra, berkata, “Ya Allah bila Engkau tidak bertindak padaku sebagaimana aku kehendaki, maka sabarkanlah diriku atas apa yang Engkau kehendaki.”
Anak-anak sekalian… Ridho terhadap ketentuan Allah Azza wa-Jalla lebih baik dibanding meraih dunia dengan penuh konflik. Karena manisnya ridho dalam hati para Shiddiqun lebih manis dibanding kenikmatan dunia dan kesenangan syahwatnya. Sebab dengan ridho kehidupan menjadi baik.
Kesimpulannya, dalam semua kondisi dengan berbagai ragam jenis, bicaralah pada manusia dengan bahasa ilmu dan amal serta keikhlasan. Jangan bicara dengan bahasa ilmu tanpa amal, karena itu pasti tidak memberi manfaat pada anda dan tidak berguna bagi diri anda sendiri.
Rasulullah Saw, bersabda: “Ilmu itu membisik bersama amal, jika ilmu bersama amal maka ia meresponnya, tetapi jika tidak, ia akan meninggalkannya.”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar