Laman

Selasa, 11 April 2017

AWAL DAN AKHIR BERAGAMA


Awaluddin makrifatullah, akhiruddin makrifatullah. Awal beragama adalah mengenal Allah dan akhir beragama adalah menyaksikan Allah dengan hati (ain bashirah)
Sedangkan anak kunci untuk mengenal Allah adalah mengenal diri sendiri
Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu, siapa yang kenal dirinya akan Mengenal Allah
Firman Allah Taala yang artinya “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur’an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?“ (QS. Fush Shilat [41]:53 )
Langkah untuk mengenal Allah Swt yang tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata maka kenali dan dalami diri kita bahgian yang tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata.
Diri manusia terdiri dari jasmani dan ruhani. Jasmani (jasad) adalah bahgian yang dapat nampak dengan panca indera kita disebut juga lahiriah sedangkan ruhani adalah bahgian yang tidak nampak dengan panca indera kita disebut juga bathiniah.
Nilai manusia tidak terletak pada jasmani (jasad) nya, akan tetapi terletak pada ruhani yang menggerakkannya. Kerana ruhani inilah, Allah memerintahkan pada malaikatnya untuk hormat kepada manusia, kerana ruhani datangnya dari Allah Subhanahu wa ta’ala.
Firman Allah ta’ala yang artinya, “Ingatlah diwaktu Allah berkata kepada para malaiakat: ”Aku menciptakan manusia dari tanah, dan setelah aku sempurnakan aku tiupkan kedalamnya ruh-Ku, maka hormatlah kamu kepadanya“.(QS Shaad [38]: 71-72)
Ruhani (ruhNya) mempunyai panggilan Akal, Hati, Nafsu
Ruh ketika berperasaan seperti sedih, gembira, senang, terhibur, marah atau sebagainya, maka ia dipanggil dengan hati.
Ruh ketika ia berkehendak, berkemahuan atau merangsang sama ada sesuatu yang berkehendak itu, baik atau buruk, yang dibenarkan atau tidak, yang halal ataupun yang haram, di waktu itu ia tidak dipanggil hati tetapi ia dipanggil nafsu.
Ruh ketika ia berfikir, mengkaji, menilai, memahami, menimbang dan menyelidik, maka ia dipanggil akal.
Pada hakikatnya ke dalam hati (jiwa) setiap manusia telah diilhamkan oleh Allah Swt untuk menimbang antara yang Haq dan Bathil
Firman Allah ta’ala yang artinya
“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan” (pilihan haq atau bathil) (QS Al Balad [90]:10 )
“maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya“. (QS As Syams [91]:8 )
Dari ilham yang dihujahkan kepada hati (qalbu) manusia maka lahirlah dalil aqli , kebenaran berdasarkan akal qalbu manusia. Cahaya nurani, yang dengannya jiwa boleh mengetahui perkara-perkara yang penting dan fitrah

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar