Laman

Selasa, 11 April 2017

SAKSIKAN KILAUAN CAHAYA ILAHI


Penyucian jiwa di setiap matalamat jalan menuju Allah, harus dilakukan secara istiqamah dengan bersungguh Waktunya juga cukup lama. Tidak hitungan bulan, tetapi tahun-tahunan. Jika sudah agak bersih dalam penyucian itu, maka pada diri seseorang akan mengalami perubahan. Bahasa awamnya memiliki keganjilan (sesuatu yang di luar pemikiran manusia). Keganjilan itu bermacam-macam. Dan setiap orang tidak akan sama.
Setelah mencuci jiwa di pelabuhan Mahabah, maka untuk meningkatkan ketakwaan harus merenangi Samudera menuju pelabuhan Makrifat. Secara harfiah, makrifat artinya penyaksian. Yang disaksikan adalah kilauan keagungan cahaya Allah (Af’al Allah). Jadi yang disaksikan adalah kilauan/cemerlang cahaya Allah. Dan yang mampu menyaksikan bukanlah mata kepala tetapi mata hati. Sebab, bab Ketuhanan adalah soal ghaib, kerananya lautan yang direnangi adalah lautan Ruhani.
Berenang di lautan makrifat untuk dapat menyaksikan kilauan cahaya Ilahi, waktunya tidaklah singkat. Bahkan tidak semua orang dapat melakukan dan mempelajari. Sebab, untuk boleh berenang ke sana atas kehendak Allah. Seseorang itu memang dikehendaki Allah. Seorang sufi wanita yang sampai melihat kilauan cahaya Allah adalah Rabiah al-Ahdawiyah. Sejak lahir sudah ditakdirkan menjadi wanita suci. Siang malam berdoa ingin melihat Allah. Namun Allah memperingatkan, cukuplah Musa saja yang punya keinginan itu. Dan, Rabiah al-Ahdawiyah dikehendaki Allah melihat kilauan keagungan cahaya-Nya.
Dapat melihat kilauan cahaya Ilahi, sebenarnya bukanlah pelabuhan terakhir. Namun sudah sangat luar biasa, ketakwaannya melebihi orang alim yang bergelar Auliyah. Ini merupakan cita-cita para kekasih Allah. Sebab, berarti perjalanan seseorang sudah sampai pada memasuki makrifat pada Allah. Sampai pada penyaksian Allah Swt.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar